Skip to main content

Penyu Laut Komodo

18 min read
KG

Komodo Guide Editorial Team

Reviewed for scientific accuracy against peer-reviewed sources

📖 13 menit baca~2966 kata

Dua spesies penyu laut mencari makan, beristirahat, dan — di sejumlah kecil pantai — bersarang di dalam Taman Nasional Komodo: penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Keduanya terancam secara global, keduanya dilindungi di dalam taman, dan keduanya dapat ditemui oleh penyelam dan snorkeler yang penuh perhatian pada hampir setiap penyelaman karang di taman. Kehadiran mereka di Komodo mencerminkan produktivitas luar biasa dari padang lamun dan terumbu karang taman — habitat yang diandalkan oleh penyu selama puluhan juta tahun.

Fakta Singkat

AtributChelonia mydas (Penyu hijau)Eretmochelys imbricata (Penyu sisik)
Status Daftar Merah IUCNTerancam Punah (EN)Kritis Terancam Punah (CR)
Panjang tempurung dewasa80–150 cm (karapas)65–90 cm (karapas)
Berat dewasa100–230 kg45–70 kg
Makanan utamaLamun, algaSpons, cnidaria
Habitat utama di KomodoPadang lamun Siaba Besar; puncak karangTerumbu karang di seluruh taman
Bersarang di KomodoSesekali; beberapa pantaiSesekali; pantai terpencil
Daftar CITESAppendix IAppendix I

Identifikasi Spesies

Penyu Hijau (Chelonia mydas)

Penyu hijau adalah yang lebih besar dan lebih sering ditemui dari dua spesies di Komodo. Meskipun namanya demikian, tempurung (karapas) biasanya berwarna cokelat zaitun, cokelat keabu-abuan, atau bergaris dengan tanda gelap yang memancar — bukan hijau. Nama umum berasal dari warna lemak subkutan, yang terakumulasi dari pola makan yang sebagian besar herbivora berupa lamun dan alga. Kepala relatif kecil dan tumpul dibandingkan spesies penyu laut lainnya, dan karapas memiliki empat pasang sisik kostal di setiap sisi — karakter identifikasi yang berguna yang membedakannya dari penyu sisik. Orang dewasa dapat mencapai bobot 100–230 kg dan termasuk reptil bercangkang keras terbesar yang hidup saat ini.

Penyu hijau menjalani salah satu peristiwa hidup paling mengesankan di dunia hewan: homing natal. Betina kembali ke pantai tempat mereka menetas — terkadang setelah migrasi ribuan kilometer — untuk meletakkan kopling telur mereka sendiri. Mereka yang bersarang di atau dekat Komodo mungkin telah menetas dari pantai sejauh kepulauan Sunda Kecil yang lebih luas. Studi genetik pada populasi penyu hijau Indo-Pasifik mengungkapkan unit peternakan regional yang berbeda, menyoroti pentingnya perlindungan di tingkat pantai untuk pengelolaan populasi.

Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

Penyu sisik langsung dapat dikenali dari kepalanya yang sempit dan meruncing yang berakhir pada paruh bercangkang yang khas — fitur yang memberinya nama umum — dan dari karapasnya, yang pada orang dewasa menampilkan sisik yang tumpang tindih dengan pola kulit penyu berupa kuning amber, cokelat, dan emas. Ini jauh lebih kecil dari penyu hijau, jarang melebihi 90 cm panjang karapas dan 70 kg. Penyu sisik adalah predator karang yang sangat terspesialisasi, memakan terutama spons — organisme yang beracun atau tidak dapat diakses oleh sebagian besar spesies lain. Spesialisasi pola makan ini menjadikannya komponen penting dari ekosistem terumbu karang: dengan mengendalikan pertumbuhan spons, penyu sisik membantu mempertahankan struktur karang dan memungkinkan karang bersaing untuk mendapatkan ruang. Spesies ini terdaftar sebagai Kritis Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN, mencerminkan penurunan populasi global sekitar 80% atau lebih selama tiga generasi terakhir, yang terutama didorong oleh pemanenan historis cangkang untuk perdagangan "penyu".

Cara Membedakannya di Bawah Air

Petunjuk identifikasi bawah air termudah adalah bentuk kepala dan konteks pola makan: jika penyu sedang merumput di lamun atau alga di dataran berpasir, hampir pasti penyu hijau. Jika sedang mencuekin spons di dinding karang atau zona bongkahan, hampir pasti penyu sisik. Dari dekat, sisik yang tumpang tindih dan paruh bercangkang sempit penyu sisik tidak bisa keliru; penyu hijau memiliki karapas yang lebih mulus dan moncong yang lebih bulat dan tumpul.

Di Mana di Komodo

Siaba Besar — Daerah Makan Penyu Hijau Utama

Siaba Besar (Siaba Besar) adalah lokasi paling andal di taman untuk perjumpaan penyu hijau. Sisi timur pulau yang terlindung menampung padang lamun yang luas berupa Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan spesies lainnya — tepat habitat penggembalaan yang dibutuhkan penyu hijau. Beberapa penyu biasanya terlihat di sini pada setiap kunjungan cuaca tenang, sering makan di lamun dengan kepala ke bawah dan tampaknya tidak terganggu oleh snorkeler terdekat. Lokasi ini dapat diakses oleh snorkeler dan merupakan salah satu tempat terbaik di Indonesia untuk pengamatan penyu yang dekat dan tidak mengganggu. Habitat lamun ini juga terhubung ke zona penggunaan dugong yang disebutkan dalam rencana pengelolaan taman, mencerminkan nilainya sebagai area mencari makan mamalia laut yang lebih luas.

Terumbu Karang di Seluruh Taman — Habitat Penyu Sisik

Penyu sisik tidak memiliki titik agregasi tunggal di Komodo; mereka adalah generalis karang yang ditemui di seluruh spektrum lokasi penyelaman. Batu Bolong, Cannibal Rock, dan dinding sekitar Pulau Padar adalah di antara lokasi-lokasi di mana penyu sisik paling sering dicatat oleh pemandu selam, kemungkinan karena lokasi-lokasi ini memiliki kepadatan spons yang tinggi. Penyu sisik lebih soliter dan kriptik dari penyu hijau dan mungkin beristirahat di bawah tonjolan atau di celah-celah selama bagian hari.

Pantai Bersarang

Bersarang oleh kedua spesies terdokumentasi di dalam Taman Nasional Komodo, meskipun tidak ada spesies yang bersarang dalam agregasi besar yang ditemukan di pantai bersarang utama di tempat lain di Indonesia (seperti Derawan di Kalimantan Timur). Pantai-pantai terpencil di wajah utara dan timur Pulau Komodo dan Rinca menerima kunjungan bersarang sesekali. Bersarang terutama merupakan kegiatan malam hari, dan pantai bersarang ditutup untuk akses pengunjung selama musim bersarang berdasarkan peraturan taman. Lokasi pantai bersarang yang tepat sengaja tidak dipublikasikan oleh otoritas taman untuk mencegah gangguan dan perburuan.

Ekologi dan Perilaku

Peran Ekologis Penyu Hijau

Peran penyu hijau dalam ekosistem Komodo terutama diekspresikan melalui penggembalaan lamun. Dengan memotong bilah lamun, penyu merangsang pertumbuhan dan produktivitas, mencegah penumpukan detritus dan penaungan tunas yang lebih muda. Efek "pemangkasan rumput" ini mempertahankan padang lamun dalam keadaan produktif dan perputaran tinggi yang mendukung ikan juvenil, invertebrata, dan siklus nutrisi yang lebih luas. Tanpa penggembalaan, padang lamun cenderung mengumpulkan epifita dan material mati yang mengurangi produktivitas keseluruhan. Penyu hijau juga membawa sejumlah besar nutrisi dari area makan dangkal ke zona karang yang lebih dalam melalui defekasi, secara efektif memupuk habitat karang dengan nutrisi yang berasal dari lamun.

Peran Ekologis Penyu Sisik

Pola makan penyu sisik yang didominasi spons menjalankan fungsi pemeliharaan karang yang sedikit spesies lain dapat menirunya. Spons adalah organisme yang tumbuh cepat yang, jika dibiarkan, dapat menguasai dan menghimpit karang yang tumbuh lambat. Dengan mengonsumsi spesies spons tertentu secara selektif, penyu sisik mengurangi tekanan kompetitif pada karang dan membantu mempertahankan keragaman struktural karang. Layanan ini sangat penting di terumbu tepi Komodo di mana tingkat nutrisi yang tinggi (didorong oleh upwelling) dapat mempercepat pertumbuhan spons. Perkiraan menunjukkan bahwa satu penyu sisik dapat mengonsumsi beberapa ratus kilogram spons per tahun.

Sejarah Hidup

Kedua spesies memiliki pola sejarah hidup yang secara umum serupa: kematangan seksual yang tertunda (biasanya 20–30 tahun pada penyu hijau, 20–25 tahun pada penyu sisik), rentang reproduksi yang panjang setelah kematangan tercapai, dan kesetiaan lokasi yang kuat untuk pantai bersarang maupun area mencari makan. Ukuran kopling berkisar dari sekitar 70–200 telur per sarang pada penyu hijau dan 130–160 pada penyu sisik. Tidak semua telur menetas, dan hanya sebagian kecil tukik yang bertahan hingga dewasa — pemangsaan oleh burung, kepiting, ikan, dan predator lainnya mengambil banyak korban di setiap tahap kehidupan. Ini berarti bahwa kematian tambahan apa pun pada tahap dewasa — akibat bycatch penangkapan ikan, tabrakan kapal, atau pemanenan — memiliki efek yang sangat besar pada kelangsungan populasi.

Ancaman

Bycatch dalam Alat Tangkap

Penangkapan yang tidak disengaja dalam jaring insang, rawai, dan trawl adalah sumber utama kematian penyu laut dewasa dan dewasa muda secara global. Penyu bernapas dengan udara dan tenggelam jika terjerat dan tidak dapat muncul ke permukaan. Aktivitas penangkapan ikan di perairan yang berdekatan dengan Komodo — terutama di Laut Flores dan Selat Sape — menimbulkan risiko ini bagi penyu yang secara rutin bergerak di luar batas taman. Hukum Indonesia melarang pembunuhan atau penangkapan penyu laut yang disengaja, namun penegakan hukum di perairan terbuka sulit dilakukan.

Pemanenan Telur dan Daging

Secara historis, telur penyu dikumpulkan dari pantai-pantai di seluruh kawasan Sunda Kecil untuk konsumsi manusia. Baik telur maupun daging penyu dewasa secara tradisional dipanen oleh komunitas pesisir. Meskipun kegiatan semacam itu kini ilegal di seluruh Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 (Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Tumbuhan dan Satwa Liar), penegakan hukum di pantai-pantai terpencil memerlukan upaya berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat.

Sampah Laut dan Ingesti Plastik

Kantong plastik mengambang dan sampah laut lainnya keliru diambil sebagai ubur-ubur dan tertelan oleh penyu laut, menyebabkan sumbatan internal, malnutrisi, dan kematian. Polusi plastik di kawasan Sunda Kecil cukup signifikan; benda-benda yang berasal dari sungai di Flores dan Sumbawa mencapai perairan taman secara musiman. Plastik yang tertelan telah terdokumentasi pada penyu laut yang terdampar di seluruh Segitiga Terumbu Karang.

Tabrakan Kapal

Penyu yang muncul ke permukaan untuk bernapas di daerah dengan lalu lintas kapal yang tinggi rentan terhadap cedera baling-baling. Meningkatnya jumlah kapal liveaboard wisata dan speedboat yang beroperasi di perairan Komodo meningkatkan risiko ini, terutama di saluran antara Pulau Komodo dan Rinca serta di sekitar Labuan Bajo.

Degradasi Habitat Pesisir

Kehilangan lamun — akibat pengerukan, sedimentasi, eutrofikasi, dan kerusakan baling-baling fisik — secara langsung mempengaruhi habitat mencari makan penyu hijau. Habitat mencari makan penyu sisik terancam oleh degradasi terumbu karang. Perubahan iklim menambah tekanan lebih lanjut: naiknya suhu pasir mempengaruhi kondisi inkubasi, memiringkan rasio jenis kelamin tukik ke arah betina (semua spesies penyu menghasilkan jenis kelamin dari suhu inkubasi telur), dan peristiwa panas ekstrem dapat menyebabkan kegagalan sarang.

Konservasi

Kedua spesies terdaftar di CITES Appendix I, melarang perdagangan komersial internasional. Di Indonesia, keduanya sepenuhnya dilindungi oleh hukum nasional. Di dalam Taman Nasional Komodo secara khusus:

  • Pantai bersarang ditetapkan sebagai zona lindung dengan akses terbatas.
  • Penjaga taman melakukan pemantauan berkala terhadap aktivitas bersarang di pantai-pantai yang diketahui.
  • Padang lamun di Siaba Besar diidentifikasi sebagai habitat mamalia laut dan penyu yang kritis dalam dokumen pengelolaan taman.
  • Pedoman pengunjung secara tegas melarang mendekati dalam jarak 3 meter dari penyu yang sedang beristirahat atau makan, menyentuh penyu, dan menghalangi jalur mereka ke permukaan untuk bernapas.

Di tingkat regional yang lebih luas, Coral Triangle Initiative (CTI-CFF) mengidentifikasi penyu laut sebagai kelompok spesies terancam prioritas, dengan komitmen dari semua enam pemerintah Segitiga Terumbu Karang untuk memperkuat perlindungan pantai bersarang, mengurangi bycatch melalui program alat pengecualian penyu, dan meningkatkan koordinasi pemantauan regional.

Melihat Penyu Laut Secara Bertanggung Jawab

  • Jangan sentuh atau naiki penyu. Kontak fisik menyebabkan stres, dapat mengganggu perilaku alami, dan dapat menghalangi penyu betina yang bersarang dari menyelesaikan siklus mereka di pantai. Hal ini dilarang di dalam taman.
  • Jangan halangi jalur penyu ke permukaan. Penyu harus bernapas. Mengelilingi penyu dan mencegahnya muncul ke permukaan berpotensi mematikan dan mutlak dilarang.
  • Dekati dari samping, bukan dari depan. Beri penyu setidaknya 3 meter ruang yang jelas. Biarkan mereka melanjutkan perilakunya tanpa mengubah arah.
  • Tidak ada fotografi dengan lampu kilat. Kilat dapat membuat penyu bingung, terutama di malam hari, dan dapat mengganggu penyu betina yang bersarang di tahap awal penggalian sarang yang kritis.
  • Etiket snorkeling di Siaba Besar: Masuk ke air dengan lembut dan biarkan penyu bergerak ke arah Anda atau mengabaikan Anda. Jika penyu muncul ke permukaan untuk bernapas dalam jarak dekat, diam dan biarkan mereka lewat secara alami.

Mitos vs Fakta

MitosFakta
"Penyu hijau itu berwarna hijau."Tempurungnya cokelat-zaitun; "hijau" mengacu pada warna lemaknya, konsekuensi dari pola makan yang banyak mengandung lamun. Di Siaba Besar, karapas penyu sering tampak cokelat atau abu-abu kehijauan.
"Penyu laut berlimpah secara global sehingga ancaman lokal tidak penting."Kedua spesies terancam secara global. Penyu hijau Terancam Punah; penyu sisik Kritis Terancam Punah. Perlindungan lokal berkontribusi langsung pada hasil konservasi global karena populasi bersarang individu adalah unit pengelolaan yang berbeda secara genetik.
"Menyentuh penyu sebentar tidak menyakitinya."Bahkan penanganan singkat pun memindahkan minyak dan bakteri manusia ke kulit dan tempurung penyu, dapat menyebabkan respons stres (peningkatan kortisol), dan membiasakan penyu pada manusia dengan cara yang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap tabrakan kapal. Hal ini juga ilegal di taman.
"Jumlah penyu laut di Komodo stabil."Pemantauan populasi jangka panjang yang sistematis di Komodo masih terbatas. Tren global untuk kedua spesies menunjukkan tekanan populasi yang berlanjut. Pemandangan penyu di lokasi populer tidak mencerminkan kesehatan populasi keseluruhan di seluruh jangkauan taman.

Poin Penting Praktis

  • Pergi ke Siaba Besar untuk perjumpaan penyu hijau yang andal dan santai — ini adalah spot snorkeling terbaik di taman untuk tujuan ini.
  • Penyu sisik paling baik ditemui saat menyelam di dinding karang dengan tutupan spons yang tinggi; tanyakan kepada pemandu Anda tentang penampakan terbaru di lokasi seperti Batu Bolong atau Cannibal Rock.
  • Bawa kamera bawah air tanpa kilat; fotografi cahaya alami di Siaba Besar sangat baik pada pagi yang tenang dan cerah.
  • Jika Anda melihat penyu yang terdampar atau terjerat, segera laporkan kepada kapten kapal Anda dan kepada Balai Taman Nasional Komodo (otoritas taman).
  • Pilih operator yang memberi pengarahan kepada tamu tentang panduan interaksi penyu sebelum masuk ke air — ini adalah tanda operasi yang bertanggung jawab.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Spesies penyu laut apa yang hidup di Komodo?

Dua spesies hadir secara teratur: penyu hijau (Chelonia mydas, IUCN Terancam Punah) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata, IUCN Kritis Terancam Punah). Catatan sesekali penyu belimbing (Dermochelys coriacea) ada untuk perairan yang mengelilingi taman, namun ini adalah pengunjung pelagis yang jarang bukan penghuni.

Di mana tempat terbaik untuk melihat penyu di Komodo?

Siaba Besar adalah lokasi paling andal untuk penyu hijau dan dapat dikunjungi oleh snorkeler. Perjumpaan penyu di sini hampir terjamin pada hari yang tenang. Penyu sisik tersebar lebih luas di seluruh lokasi penyelaman; Batu Bolong, Cannibal Rock, dan berbagai lokasi di sekitar Pulau Padar sering dikutip oleh pemandu sebagai lokasi penyu sisik yang baik.

Apakah penyu laut bersarang di pantai Komodo?

Ya, kedua spesies bersarang di pantai-pantai tertentu di dalam taman, terutama di bentangan terpencil Pulau Komodo dan Rinca. Bersarang sesekali daripada mewakili agregasi besar. Lokasi yang tepat tidak diungkapkan kepada publik untuk melindungi betina yang bersarang dan sarang dari gangguan. Pengunjung tidak boleh mencoba mengakses pantai di malam hari tanpa pendampingan penjaga taman yang eksplisit.

Apakah penyu laut dilindungi di Indonesia?

Ya. Kedua spesies sepenuhnya dilindungi oleh hukum nasional Indonesia (Peraturan Pemerintah No. 7/1999 dan peraturan terkait). Perdagangan komersial internasional dilarang berdasarkan CITES Appendix I. Di dalam Taman Nasional Komodo, semua gangguan langsung, pengumpulan, dan pembunuhan penyu laut adalah ilegal. Meskipun ada perlindungan ini, bycatch dan perjumpaan tidak disengaja dengan alat penangkapan ikan tetap menjadi ancaman di perairan di luar batas taman.

Berapa umur penyu laut?

Penyu laut termasuk reptil yang paling panjang umur. Bukti yang terdokumentasi dengan baik menunjukkan rentang hidup 70–80 tahun atau lebih pada penyu hijau liar, dengan beberapa perkiraan menunjukkan individu mungkin hidup lebih dari satu abad. Kematangan seksual tiba terlambat — biasanya tidak sampai usia 20–30 tahun — yang berarti bahwa penyu mana pun yang terlihat di Komodo mungkin telah hidup lebih lama dari taman itu sendiri. Realitas biologis ini membuat kelangsungan hidup dewasa sangat penting untuk kelangsungan populasi.

Mengapa penyu sisik Kritis Terancam Punah sementara saya cukup sering melihatnya di Komodo?

Penilaian IUCN mencerminkan tren populasi global: populasi penyu sisik telah menurun sekitar 80% atau lebih selama tiga generasi, terutama karena eksploitasi historis untuk perdagangan "penyu" ornamental dan ancaman yang terus berlanjut. Melihat penyu sisik di terumbu Komodo itu menggembirakan tetapi tidak bertentangan dengan penilaian global — kesehatan relatif Komodo berarti ia menampung kepadatan penyu sisik yang lebih tinggi daripada banyak sistem karang lainnya. Ini membuat perlindungan yang efektif di sini semakin penting bagi kelangsungan hidup global spesies.

Apa yang harus saya lakukan jika melihat penyu yang terjerat alat tangkap?

Jangan mencoba melepaskan peralatan sendiri kecuali Anda terlatih dalam penanganan hewan laut dan hewan dalam bahaya tenggelam segera. Segera beritahu pemandu selam atau kapten kapal Anda. Hubungi Balai Taman Nasional Komodo (otoritas taman) secara langsung. Dalam keadaan darurat di laut, kapten kapal dapat menghubungi pencarian dan penyelamatan Indonesia (Basarnas) atau penjaga pantai. Melepaskan alat yang menjerat dengan tidak benar dapat melukai penyu maupun penyelamat.

Bisakah penyu bernapas di bawah air?

Tidak. Penyu laut adalah reptil yang bernapas dengan udara yang harus muncul ke permukaan secara teratur untuk bernapas. Saat beristirahat di dasar laut, mereka dapat mengurangi laju metabolisme dan memperpanjang waktu penyelaman secara cukup signifikan — penyu hijau telah tercatat menahan napas selama beberapa jam pada tingkat aktivitas rendah. Saat mencari makan aktif, mereka biasanya muncul ke permukaan setiap beberapa menit. Inilah mengapa menghalangi akses penyu ke permukaan berpotensi mematikan, dan mengapa snorkeler dan penyelam selalu harus memberikan jalur yang jelas ke atas.

Sumber & Bacaan Lanjutan

  • IUCN SSC Marine Turtle Specialist Group. Red List assessments for Chelonia mydas (Endangered) and Eretmochelys imbricata (Critically Endangered). Available at: iucnredlist.org
  • Bjorndal, K.A. (1997). Foraging ecology and nutrition of sea turtles. In: The Biology of Sea Turtles, Vol. 1. CRC Press, Boca Raton. pp. 199–231.
  • Mortimer, J.A. & Donnelly, M. (IUCN SSC Marine Turtle Specialist Group). (2008). Eretmochelys imbricata. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008.
  • Allen, G.R. & Erdmann, M.V. (2012). Reef Fishes of the East Indies. Tropical Reef Research, Perth. [Ecosystem context for hawksbill reef role.]
  • Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF). Regional Plan of Action — Priority 3: Threatened species. Available at: coraltriangleinitiative.org
  • Indonesia Government Regulation No. 7/1999 on the Protection of Wild Plants and Animals (Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999). [Protects both sea turtle species in Indonesian waters.]
  • Wallace, B.P. et al. (2011). Global patterns of marine turtle bycatch. Conservation Letters, 4(2), 131–142.
penyu lautpenyu hijaupenyu sisiklautKomodo

Fact-check note: This article was reviewed for scientific accuracy. If you spot an error, please

contact us
.

KG

Komodo Guide Editorial Team

Ditinjau untuk akurasi ilmiah berdasarkan sumber peer-reviewed

Tim editorial Komodo Guide terdiri dari biolog, konservasionis, dan komunikator sains yang berdedikasi untuk edukasi berbasis bukti tentang Taman Nasional Komodo.

Bacaan Lanjutan

Terakhir diperiksa: oleh Tim Editorial Komodo Guide. Lihat metodologi atau kirim koreksi.

Kutip halaman ini

APA 7

Komodo Guide. (2026). Penyu Laut di Taman Nasional Komodo: Konservasi. Komodo Guide. https://www.komodoguide.org/id/ecosystem/sea-turtles/

Chicago

Komodo Guide. "Penyu Laut di Taman Nasional Komodo: Konservasi." Komodo Guide. Diakses pada 2026. https://www.komodoguide.org/id/ecosystem/sea-turtles/

MLA 9

Komodo Guide. "Penyu Laut di Taman Nasional Komodo: Konservasi." Komodo Guide, 2026, https://www.komodoguide.org/id/ecosystem/sea-turtles/.

BibTeX

@misc{sea_turtles_2026, title = {Penyu Laut di Taman Nasional Komodo: Konservasi}, author = {Komodo Guide}, year = {2026}, url = {https://www.komodoguide.org/id/ecosystem/sea-turtles/}, organization = {Komodo Guide}, note = {Accessed 2026} }

RIS

TY - GEN TI - Penyu Laut di Taman Nasional Komodo: Konservasi AU - Komodo Guide PY - 2026 UR - https://www.komodoguide.org/id/ecosystem/sea-turtles/ PB - Komodo Guide ER -